Selasa, 17 Maret 2009

rujukan

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rujukan
2.1.1 Pengertian
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dari satu unit ke unit yang lebih lengkap /Rumah Sakit) maupun horizontal (dari satu bagian ke bagian lain dalam satu unit) (Muchtar, 1977).
2.1.2 Tujuan Rujukan
a. Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-baiknya.
b. Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lengkap fasilitasnya.
c. Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer knowledge and skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat pendidikan dan daerah perifer (Muchtar, 1977).
6




2.1.3 Kegiatan Rujukan
a) Rujukan dan Pelayanan Kebidanan
Kegiatan ini antara lain berupa :
1. Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap.
2. Rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan, dan nifas
3. Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis.
4. Pengiriman bahan laboratorium
b) Pelimpahan Pengetahuan dan Keterampilan
Kegiatan ini antara lain :
1. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah perifer untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan demonstrasi.
2. Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah ke rumah sakit yang lebih lengkap dengan tujuan menambah pengetahuan dan keterampilan.
c) Rujukan Informasi Medis
Kegiatan ini antara lain berupa :
1. Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim.
2. Menjalin kerjasama pelaporan data-data medis.
(Muchtar, 1977)
2.1.4 Faktor-Faktor Penyebab Rujukan
a. Riwayat bedah sesar
b. Perdarahan pervaginam
c. Persalinan kurang bulan
d. Ketuban pecah disertai dengan mekonium yang pecah
e. Ketuban pecah lebih dari 24 jam
f. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan
g. Ikterus
h. Anemia berat
i. Tanda /gejala infeksi
j. Pre-eklampsia /Hipertensi dalam kehamilan
k. Tinggi fundus 40 cm/lebih
l. Gawat janin
m. Primapara dalam fase aktif kala I persalinan dan kepala janin masuk 5/5
n. Presentasi bukan belakang kepala
o. Presentasi ganda (mejemuk)
p. Kehamilan ganda (gemelli)
q. Tali pusat menumbung
r. Syok.
(Asuhan Persalinan Normal 2007)

2.2 Ketuban Pecah Dini
2.2.1 Pengertian
Beberapa penulis mendefinisikan Ketuban Pecah Dini yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti tanda-tanda persalinan (Smith, 2008).
2.2.2 Penyebab Ketuban Pecah Dini
Belum diketahui
Faktor-faktornya :
a. Infeksi secara langsung pada selaput ketuban.
b. Serviks yang selalu terbuka.
c. Tekanan intra uterin yang meningkat.
d. Kelainan letak.
2.2.3 Tanda dan Gejala
a. Basah pada vagina
b. Mengeluarkan cairan tiba-tiba dari jalan lahir
c. Berbau khas
d. His belum teratur
e. Belum ada pengeluaran lendir darah
(Sarwono, 2002).

2.2.4 Penanganan
1) Pada Aterm (>37 Minggu)
Seksio Sesarea (Syaifuddin, 2002).
2) Pada Preterm (< 37 minggu)
a. Dirawat di Rumah Sakit
b. Tunda persalinan
c. Berikan antibiotik
(Manuaba, 2001).
2.3 Pre-eklampsia
2.3.1 Pengertian
Pre-eklampsia adalah hipertensi pada ibu hamil diatas 20 minggu disertai oedema, protein urin. (Sarwono, 2002).
Pre-eklampsia terbagi dua :
1. Pre-eklampsia Ringan
a. Tekanan darah 140/90 mmHg
b. Oedema ringan kenaikan berat badan 1 kg/minggu
2. Pre-eklampsia Berat
a. Tekanan darah > 160/110 mmHg
b. Protein urinaria 5 gr/24 jam
c. Oedema
d. Kejang
2.3.2 Tiga Tanda Klinis Klasik Pre-eklampsia Adalah Trias antara Hipertensi Proteinurin Dan Oedema
1. Hipertensi
a. Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
b. Tekanan sistolik naik 30 mmHg /lebih atau kenaikan tekanan diastolik naik 15 mmHg /lebih dari tekanan darah normal wanita. (Sarwono, 2005).
2. Proteinuria
a. Konsentrasi protein dalam urin lebih dari 0,3 gr dalam spesimen 24 jam
b. Protein dalam urin lebih dari 1 gr/liter )1+sampai 2+). (Sarwono, 2002)..
3. Oedema
a. Retensi urin pertama kali ditandai dengan kelebihan berat badan secara mendadak (1 kg sampai 2,5 kg atau lebih dalam 1 minggu).
b. Berbeda dengan oedema di ekstremitas bawah (Varney, 2002).
2.3.3 Penyebab Pre-eklampsia
Sampai sekarang penyebab preeklampsia masih tanda tanya, penyakit ini masih disebut desease of theory, meskipun penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita hamil yang :
a. Primigravida
b. Riwayat pernah menderita preeklampsia dan eklampsia dalam keluarga.
c. Kehamilan ganda, diabetes mellitus, mola hidatidosa.
d. Riwayat penderita hipertensi.
e. Multipara dengan umur > 35 tahun

2.3.4 Patogenesis
Walaupun etiologinya belum jelas hampir semua ahli sepakat vasospasme kerusakan awal dari kejadian penyakit ini. Vasospasme dapat menyebabkan terjadi kerusakan sel-sel endotel, sehingga terjadi perubahan fungsi sel endotel yang dianggap sebagai penyebab utama timbulnya gejala pre-eklampsia.
2.3.5 Klasifikasi
Klasifikasi pre-eklampsia terbagi dua, yaitu :
a. Preeklampsia ringan bila disertai keadaan sebagai berikut :
1. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih
2. Oedema ringan dengan kenaikan BB 1 kg/minggu
3. Proteinuria 0,3 gr/24 jam atau + 1 s/d + 2 (Manuaba, 2001)
b. Preeklampsia berat bila disertai keadaan sebagai berikut :
1. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
2. Proteinuria 5 gr/24 jam atau +4 s/d +5
3. Oliguria 400 cc /24 jam
4. Oedema paru dapat disertai sianosis.
2.3.6 Gambaran Klinik
Gejala-gejala tanda preklampsia berat yaitu :
a. Tekanan darah sistolik > 160 mmHg.
b. Tekanan darah diastolik > 110 mmHg.
c. Penigkatan kadar enzim hati atau ikterus
d. Trombosit < 100.000 /mm.
e. Oliguria < 400 ml /24 jam
f. Proteinuria > 5 gr /liter
g. Nyeri epigastrium
h. Skotoma dan gangguan virus lain atau nyeri frontal yang berat
i. Perdarahan retina
j. Oedema pulmonum
k. Koma (Sarwono, 2002).
2.3.7 Diagnosis
Diagnosis pre-eklampsia ditegakkan apabila pada seseorang wanita hamil dengan umur kehamilan 20 minggu atau lebih, ditemukan gejala hipertensi, proteinuria, oedema (Sarwono, 2005).
2.3.8 Frekuensi
Pada primigravida frekuensi preeklampsia lebih tinggi bila dibandingkan dengan multigravida, terutama primigravida muda. Diabetes mellitus, mola hidatidosa, kehamilan ganda, umur > 35 tahun dan obesitas merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya pre-eklampsia (Sarwono, 2002).
2.3.9 Penanganan
Penanganan pre-eklampsia berat dan eklampsia yaitu di rujuk.

2.4 Letak Lintang
2.4.1 Pengertian
Menurut Sarwono, letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam rahim dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain.
Penyebab Terjadinya Letak Lintang
Penyebab terjadinya letak lintang yaitu multiparitas, riwayat kehamilan (prematur, gemelli, hidramnion), adanya panggul sempit (CPD), adanya tumor di daerah panggul yang menutupi jalan lahir, adanya plasenta previa serta kelainan uterus (Arkuatus dan Subseptus) (Sarwono, 2002).
2.4.2 Tanda dan Gejala
a. Dapat dilihat dan diraba perut terasa membesar ke samping
b. Pergerakan janin pada bagian kiri dan kanan abdomen ibu
c. Bunyi denyut jantung di sekitar pusat
d. Tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan kehamilan
e. Pemeriksaan Dalam (VT) teraba lengan, bahu janin.
2.4.3 Komplikasi
a. Perdarahan postpartum
b. Infeksi karena perdarahan yang banyak bayi lahir mati
c. Tali pusat menumbung
d. Tali pusat melilit solusio plasenta. (Sarwono, 2005).

2.4.4 Penanganan
Penanganan letak lintang adalah seksio sesarea (Sarwono, 2002).
2.5 Postmatur /Postterm
2.5.1 Pengertian
Postmatur adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu (Mansjoer, 1999).
2.5.2 Penyebab Postmatur
a. Tidak ada his karena kurangnya air ketuban
b. Mudah stres
c. Insufisiensi
2.5.3 Tanda-Tanda Postmatur/Postterm Ada Tiga
a. Kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas
b. Air ketuban berwarna hijau
c. Kuning pada kuku, kulit dan tali pusat
(Sarwono, 2005).
2.5.4 Penanganan
a. Kalau janinnya besar di seksio sesarea.
b. Kalau janinnya kecil dilakukan induksi persalinan dengan skor bishop.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar